Rabu, 07 Januari 2015



Dua Kado
            Mentari pagi mulai menampakkan dirinya. Embun pagi meneteskan kesegaran dan burung-burung berkicau ria seakan ikut merasakan kebahagiaan di diri Ayu. Ayu adalah seorang gadis desa yang cantik dan manis tanpa polesan di wajahnya. Dia duduk termenung di ayunan dekat bangunan dengan pohon besar dan sejuk yang tak diketahui apa namanya. Ayu mengenang masa-masa SMPnya bersama dengan Deden. Ayu dan Deden bersahabat dari SD, dua sahabat yang masih polos ini mempunyai perasaan saling menyayangi. Deden menyatakan perasaannya dengan cicin yang dibuat dari tumbuhan kering.
            “Ayu... Ayu... ini ada kiriman dari Jakarta.” Suara Ibu Ayu membuyarkan lamunan Ayu
            “Pagi-pagi seperi ini bu ?” Tanya Ayu
            “Sebenarnya dari sore tapi ibu lupa”
            Ayu melihat da sepucuk surat merah jambu dan dua bungkus kado. Tidak ada nama pengirim. Ayu tidak sabar untuk membuka isi surat. Segera ia merobek sudut atas. Ayu merasa sangat akrab dengan tulisan tangan itu. Ya itu tulisan Deden kekasihnya.
            Untuk Ayu
            Di tempat
Apa kabarmu hari ini ? Aku dan ayahku baik-baik saja. Sedang apa kamu saat ini ? Em... pasti kamu sedang melamunkan aku kan ? Apapun yang kamu lakukan saat ini aku berharap suratku ini harus kamu baca sampai habis... 
            Ayu menghentikan membaca surat. Ayu membayangkan lagi wajah Deden, pemuda tampan yang pernah tinggal di rumah neneknya, samping rumah Ayu. Deden tinggal di rumah neneknya di desa lantaran ayahnya sibuk bekerja di Jakarta, sementara ibunya sudah meninggal. Selama SD samapi SMA Deden satu sekolah dengan Ayu. Namun setelah lulus SMA ayahnya menjemputnya untuk kuliah di Jakarta.
Ayu yang paling ayu, apa kamu masih ingat saat aku menulis di pohon tempat main kita ? Apakah pohon itu masih ada atau sudah di tebang ? Aku tahu mungkin saat ini kamu sedang berada di tempat itu untuk menungguku. Tapi aku minta maaf aku tidak bisa datang untuk merayakan ulang tahunmu yang ke-25. Aku tahu belakangan ini aku tidak pernah menjumpaimu dan nenek. Aku minta maaf. Aku sedang sibuk dengan pekerjaanku.
            Kembali Ayu mengingat saat Deden menulis di kulit kayu pohon. Ayu menatap tulisan itu. Tulisan yang pernah di ukir Deden dengan cutter masih nampak jelas. “Aku akan menikahi Ayu setelah Ayu mengenakan hijab.” Saat ini Ayu sudah mengenakan hijab, dan Ayupun menceritakannya lewat chatting. Namun sampai saat ini belum ada tanda-tanda Deden ingin meminangnya. Apalagi ditambah perhatian dari Deden yang sedikit demi sedikit mulai memudar. Keresahan di hati Ayu semakin menjadi. Ayu merasa takut Deden berpaling darinya. Ayu takut saat ini Deden sedang pergi dengan wanita-wanita cantik di Jakarta. Selama ini Ayu sudah menutup diri dari lelaki lain. Hal ini dilakukan karena ingin setia dengan Deden. Dengan tangan gemetar, Ayu meneruskan membaca surat.
Ayu, ayahku melarangku untuk menjalin hubungan denganmu. Aku tidak tahu mengapa. Semenjak ayahku melihatmu bersama ibumu kala itu, ayah langsung melarangku. Mungkin karena ayah dan ibumu pernah ada masalah dulunya.
            Ayu semakin takut, keringat dingin keluar dari tubuhnya. Mungkin karena alasan ini Deden menjauhinya. Mungkin saja ayah Deden telah menjodohkan anaknya dengan wanita lain.
Ayu, meskipun di hari ulang tahunmu aku tidak bisa datang namun aku harap kamu datang di akhad nikah aku. Aku minta maaf Ayu. Mungkin kita memang tidak jodoh.
            Ayu tidak sanggup lagi membaca surat ini. Pandangannya kabur dan berkunang-kunang. Ayu kehilangan kesadarannya. Ibunya langsung meminta bantuan dan membawanya ke puskesmas terdekat. Ayu diperiksa oleh dokter dari kota yang tak lain adalah Deden. Ayu terkejut melihatnya.
            “Lebih baik aku mati dari pada harus dirawat oleh dokter pengkhianat sepertimu ! Dokter yang menghancurkan kesetiaanku dan dokter yang menyakiti hati orang.”
            “ayu aku minta maaf karena tidak meminangmu, meski saat ini kamu sudah berhijab. Tapi tolong kamu buka kado ini.” Jawab Deden
            “Tidak. Aku tidak bisa membuka kado ini dokter pembohong !”
“Oke, kalau kamu tidak mau membuka kado dariku buka kado ayah.” Kata Deden sambil meninggalkan Ayu.
Ayu tidak menyangka, Deden memberikan kado sepahit ini di usianya ke-25. Ayu mencoba untuk tegar, karena pasti ada pelangi di balik hujan. Perlahan Ayu membuka kado dari ayah Deden. Di dalam kado yang besar ada beberapa kotak kado. Ayu membuka satu persatu. Ada sepatu yang memiliki ukuran lebih kecil dari ukurannya sekarang. Ada foto dan ad juga kalung. Foto itu adalah foto Ayah Deden bersama Ibu Ayu dan bayi. Ayu juga menemukan secarik kertas. Di dalam kertas itu Ayah Deden mengatakan bahwa sepatu itu adalah kado ulang tahun Ayu ke-12. Setelah bertahun-tahun Ayah Deden mencari darah dagingnya yaitu Ayu. Foto bayi itu adalah Ayu.  Ternyata Ayu adalah adik kandung Deden yang selama ini hilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar